Monday, 26 November 2012

Pengalaman



Bahasa Indonesia
Nama: Anton Susilo
NPM:201243500662


PROGRAM TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK,MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
JAKARTA 2012
DIRI SAYA

Waktu terasa cepat berlalu,sudah delapan tahun meninggalkan SMA. Masa-masa SMA memang saat yang paling menyenangkan, ketika itulah timbul hobi yang paling saya sukai, yaitu naik gunung dan kemping. Di awal masuk sekolah ada teman yang mengajak untuk pergi ke gunung Gede di Bogor untuk mendakinya dan menginap.
Saya dan teman-teman mulai merencanakan kegiatan ini, dan kami sepakat untuk pergi saat liburan setelah semester satu. Saya bersama sepupu berangkat untuk berkumpul dengan teman yang lain di lokasi yang sudah di tentukan. Sepupu saya adalah seorang anggota TNI AD di korp.Raider bataliyon Infanteri dan sekarang bertugas di Aceh. Kami berkumpul di dekat pasar jonggol ( nama daerah ). Di sana sudah menunggu empat orang teman yang  akan pergi bersama, mereka berasal dari sekolah lain dan saya baru mengenal mereka ketika itu.
Kami pun berbincang-bincang sebentar dan saling mengenal, setelah itu kami siap-siap untuk pergi dan memeriksa kembali perlengkapan. Setelah selesai kami menuju jalan raya untuk mencari kendaraan yang menuju ke arah Cianjur. Saya pikir kami akan mengendarai bis, ternyata malah naik truk tronton. Awalnya saya tidak mau, tapi karena sudah siap dan saya senang dengan kegiatan ini ,maka saya ikuti.
Di tengah perjalanan banyak hal yang sudah saya saksikan, diantara hal yang saya saksikan adalah kecelakaan yang terjadi antara bis dengan sepeda motor. Truk yang kami niki waktu itu sedang melewati tikungan perbukitan yang menanjak, dari atas ada bis besar yang berlawanan arah dengan kami menuruni bukit. Tiba-tiba seorang pengendara motor dari arah yang sama dengan arah truk kami menyalip dan dia tidak tahu kalau di depanya ada bis besar yang sedang melaju. Si pengendara motor pun menghantam bis dengan keras, dia jatuh seketika dan saya menyasikan kepalanya tepat berada di roda depan bis dengan berlumuran darah. Kepala si pengendara sepeda motor pecah dan tidak dapt ditolong,orang-orang hanya melihat dan menunggu keluarga korban yang akan mengambil jenazahnya. Posisi kami waktu itu sangat jauh dari kota dan saya tidak turun dari truk, karena akan sangat sulit sekali untuk mendapatkan tumpangan.
Setelah kejadian itu saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan menuju gunung Gede Pangrango. Setelah empat jam perjalanan dan masih di truk yang sama, akhirnya kami sampai di Cianjur. Di sana kami naik angkot yang menuju ke arah gunung Putri ( sebutan penduduk untuk gunung Gede). Kurang lebih empat puluh lima menit kami sampai di pos pertama gunung Gede. Pos yang kami lalui adalah melalui pintu belakang dari gunung Gede .
Kami mendaftarkan kelompok di pos ini dengan biaya administrasi Rp.15000,-. Setelah mendaftar kami makan siang, karena sudah jam 12.30 siang perut pun terasa lapar. Saya duduk dekat dengan aliran air yang kecil, di sini juga saya mengisi air untuk minum dan perbekalan di atas puncak nanti. Ada yang bilang kalau sudah di atas tidak ada mata air,karena itulah saya mengisi air dengan penuh untuk bekal diatas.
 Naik gunung adalah pengalaman saya yang paling pertama, baru berjalan sepuluh menit saja sudah merasa kecapean. Ransel yang saya bawa sangat berat dan membuat bahu pegal juga lecet. Tapi, seiring berjalannya waktu rasa sakit yang ada di bahu menjadi hilang. Saya pikir sampai di puncak bisa cepat, ternyata sangat lama sekali. Ketika memanjat saya berpapasan dengan orang-orang yang turun dengan cepat, mungkin karena mereka sudah terbiasa.
Saya selalu berhenti dan minum, beda dengan dua temen saya mereka seolah tidak merasa lelah. Mereka berdua hanya minum dan merokok, padahal mestinya seorang perokok tidak aka kuat ketika mendaki. Saya perhatikan ternyata rokoknya lain dari pada biasanya,mereka meraciknya sendiri dan bukan memakai tembakau yang mereka gunakan adalah ganja kering. Entah dari mana mereka mendapatkan ganja itu, saya hanya melihat saja dan ketika di tawari saya menolaknya. Mereka bilang ganja ini bisa menghilangkan rasa lelah dan tidak akan terasa cape ketika mendaki. Ternyata mereka adalah pecandu narkoba, saya baru mengetahuinya ketika sudah berada di gunung.
Setelah enam jam jalan kaki dan banyak berhenti, akhirnya kami sampai di atas gunung pada pukul 18.00 petang dan ini belum sampai di puncaknya. Kami mendirikan tenda juga masak indomie, setelah itu berstirahat. Sebagian kami masih ada yang belum tidur dan malah bernyanyi-nyanyi sampai tengah malam.
Sebelum matahari terbit kami sudah bangun dan membongkar tenda dan melanjutkan perjalanan mendaki puncak Gede. Belum sampai di puncak matahari sudah nampak ternyata kami telat untuk melihat “sun rises”. Tidak menganpa kami tetap naik dan akhirnya sampai di atas pada pukul tujuh pagi. Dengan udara yang segar cuaca cerah semua kota bogor terlihat dari atas puncak. Dan saya melihat bekas-bekas letusan dari gunung Gede dan sekarang sudah di tumbuhi oleh pepohonan dan menjadi hutan.
Perjalanan di lanjutkan dengan menuruni gunung dan melewati “tanjakan setan”. Orang-orng menyebutnya seperti itu karena tanjakannya yang sangat terjal dan sulit di lewati. Ketika naik paha terasa sakit dan ketika turun lutut yang terasa copot, tapi ini menyenangkan dan saya menikmatinya sehingga tidak terasa lagi rasa sakit atau apapun. Pemandangan kiri kanan masih alami dan tidak ada polusi, tapi sayang para pendaki tidak menjaga kebersihan lingkungan. Banyak sampah bekas-bekas kemping atau makanan yang berserakan dimana-mana. Dari pos saja sudah di ingatkan bahwa tidak boleh membuang sampah sembarangan, tapi ternyata faktanya lain.
Sampai di kaki gunung ternyata ada sungai dan saya minum sepuasnya. Air yang saya bawa sudah habis sebelum sampai kali. Hari makin gelap kami mulai mencari tempat untuk mendirikan tenda. Tempat yang kami pilih adalah dekat dengan air terjun “Cibeureum” di samping kali.
Sore hari saya dan teman mandi di kali, sudah dua hari saya tidak mandi dan teman yang lain tidak ada yang mandi. Selesai mandi saya memakai baju tiga lapis dan jaket celana juga tiga lapis supaya tidak kedinginan saat malam nanti. Ternyata seperti di puncak dingin masih menusuk sampai tulang. Sudah dua malam berlalu sulit tidur kembali. Sampai pagi menjelang saya dan teman-teman sarapan indomie dan kopi setelah itu melanjutkan perjalanan dengan tidak khawatir lagi kehabisan air. Sepanjang jalan yang kami lalui banyak air dan jalan setapak kami selalu menlintasi aliran air.
Di kaki gunung ada mata air panas yang berasal dari panas gunung Gede, kemudian ada kolam ikan yang hanya ada lima ekor ikan besar, seperti ikan mas. Tidak boleh ada seorang pun yang memancing atau mengambil ikan itu, karena di lindungi dan berada di kawasan hutan  hutan lindung. Saya melihat dan mengambil gambarnya seperti di atas puncak kami berfoto-foto untuk mengabadikan kegiatan kami. Semakin dekat dengan pos keluar ada yang bilang akan ada pemeriksaan oleh petugas. Saya sudah merasa cemas takut kena denda, karena saya mengambil bunga edelweis dan di taruh di saku saya juga membawa pisau. Ternyata, tidak ada pemeriksaan Polisi Hutan yang kami temui saja hanya menyapa dan mereka naik kepuncak untuk patroli.
Dan sampai di bawah kami mampir ke kebun strowberi dan meminta buah kepada pak taninya, dia pun memberikan. Kami berjalan menuju puncak pas dengan mengendarai angkot dan tawar-menawar harga untuk diantar kan ke tempat tujuan yaitu puncak pas. Setelah tiga angkot yang lewat harga pun di sepakati dan kami naik angkot ke arah puncak pas. Kami berhenti di depan rumah makan “Rindu Alam”. Tapi, kami tidak makan di sana melainkan naik ke atas kebun teh yang ada di depannya.
Diatas kebun teh kami mendirikan tenda dan makan siang kemudian istirahat. Sore hari kami di datangi oleh penjaga kebun teh dan hendak mengusir. Dia bilang tidak boleh ditempati,tapi kami mengajaknya berunding dan dia malah meminta uang sebagai gantinya. Kami mengumpulkan uang dan memberikanya kepada si penjaga kebun itu. Di samping kami juga ada yang mendirikan tenda dan tengah malam mereka malah berisik nyanyi-nyanyi. Kami berada di atas puncak kebun teh tepat pada malam tahun baru. Saya dan teman-teman makan sore dengan sisa-sisa bekal yang ada,kemudian turun ketempat keramaian orang-orang dan ikut bergabung. Walaupun pakaian yang saya kenakan kotor karen sudah empat hari tidak di cuci, saya tetap merasa percaya diri dan tidak malu. Waktu saya turun sudah malam dan pakaian yang saya kenakan juga tidak terlalu nampak kotornya.
Tepat jam duabelas malam semuanya serentak meniup terompet dan menyalakan kembang api, saya dan teman-teman hanya menyaksikan dan ikut bergembira pada saat itu. Setelah pesta berakhir kami kembali ke tenda pada pukul dua malam dan saya istirahat lebih dahulu, sedangkan teman-teman masih asik begadang dan minum-minum.
Di saat istirahat angin mulai bertiup kencang dan disertai dengan hujan, saya terbangun karena kebasahan. Dan semuanya menjadi terjaga tidak ada yang tidur satupun diantara kami. Sedangkan di tenda lain mereka masih saja berman gitar dan bernyanyi walaupun badai sedang menerpa. Akhirnya tenda mereka terbawa angin dan mereka pun mulai berlarian turun dari atas puncak. Kami masih bertahan dan tetap berada di dalam tenda.
Badai menerpa selama satu jam dan membuat kami semua basah kuyup dan tidak ada yang kering. Saat pagi hari kami membereskan semuanya dan bersiap kembali melanjutkan perjalanan. Dengan berjalan kaki kami menuruni bukit dan ketika sampai di tepi jalan raya kami berusaha mencari tumpangan dan setelah berjalan selama hampir satu jam ada juga yang mau memberikan tumpangan kepada kami. Kami menaikinya dan melanjutkan perjalanan pulang perbekalan sudah habis sama sekali dan diatas truk hanya ngobrol dan melihat-lihat pemandangan.
Ketika sampai di perbatasan Cianjur kami turun dan berganti kendaraan, karena kendaraan yang kami naiki berbeda jurusan dengan yang kami tuju. Kami kembali menunggu kendaraan yang menuju kearah jakarta. Beberapa truk lewat begitu saja dan tidak memberikan tumpangan kepada kami,sekian jam menunggu akhirnya dapat truk yang menuju kearah jakarta.

Sampailah kami di kota Jonggol, tempat awal mula kami berkumpul disana saya di traktir oleh teman yang rumahnya disekitar daerah itu. Kami berpisah dengan semua dan kembali ke tempat masing-masing dengan membawa pakaian kotor dan kelelahan selama empat hari berpetualangan ke gunung Gede dan kawasan  puncak Bogor. Walaupun dengan dana yang sedikit saya bisa memanfaatkan uang itu untuk berlibur dan merasa puas,uang yang saya bawa hanya sebesar Rp.20.000,- saja. Sampailah di rumah dengan selamat dan langsung membersihkan diri dan istirahat.
SEKIAN

No comments:

Post a Comment

Silahkan Berikan Komentar Yang Baik