Bahasa Indonesia
Nama: Anton Susilo
NPM:201243500662
PROGRAM
TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS
TEKNIK,MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
INDRAPRASTA PGRI
JAKARTA
2012
DIRI SAYA
Waktu
terasa cepat berlalu,sudah delapan tahun meninggalkan SMA. Masa-masa SMA memang
saat yang paling menyenangkan, ketika itulah timbul hobi yang paling saya
sukai, yaitu naik gunung dan kemping. Di awal masuk sekolah ada teman yang
mengajak untuk pergi ke gunung Gede di Bogor untuk mendakinya dan menginap.
Saya
dan teman-teman mulai merencanakan kegiatan ini, dan kami sepakat untuk pergi
saat liburan setelah semester satu. Saya bersama sepupu berangkat untuk
berkumpul dengan teman yang lain di lokasi yang sudah di tentukan. Sepupu saya
adalah seorang anggota TNI AD di korp.Raider bataliyon Infanteri dan sekarang
bertugas di Aceh. Kami berkumpul di dekat pasar jonggol ( nama daerah ). Di
sana sudah menunggu empat orang teman yang
akan pergi bersama, mereka berasal dari sekolah lain dan saya baru mengenal
mereka ketika itu.
Kami
pun berbincang-bincang sebentar dan saling mengenal, setelah itu kami siap-siap
untuk pergi dan memeriksa kembali perlengkapan. Setelah selesai kami menuju
jalan raya untuk mencari kendaraan yang menuju ke arah Cianjur. Saya pikir kami
akan mengendarai bis, ternyata malah naik truk tronton. Awalnya saya tidak mau,
tapi karena sudah siap dan saya senang dengan kegiatan ini ,maka saya ikuti.
Di
tengah perjalanan banyak hal yang sudah saya saksikan, diantara hal yang saya
saksikan adalah kecelakaan yang terjadi antara bis dengan sepeda motor. Truk
yang kami niki waktu itu sedang melewati tikungan perbukitan yang menanjak,
dari atas ada bis besar yang berlawanan arah dengan kami menuruni bukit.
Tiba-tiba seorang pengendara motor dari arah yang sama dengan arah truk kami
menyalip dan dia tidak tahu kalau di depanya ada bis besar yang sedang melaju.
Si pengendara motor pun menghantam bis dengan keras, dia jatuh seketika dan
saya menyasikan kepalanya tepat berada di roda depan bis dengan berlumuran
darah. Kepala si pengendara sepeda motor pecah dan tidak dapt
ditolong,orang-orang hanya melihat dan menunggu keluarga korban yang akan
mengambil jenazahnya. Posisi kami waktu itu sangat jauh dari kota dan saya
tidak turun dari truk, karena akan sangat sulit sekali untuk mendapatkan
tumpangan.
Setelah
kejadian itu saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan menuju gunung Gede Pangrango.
Setelah empat jam perjalanan dan masih di truk yang sama, akhirnya kami sampai
di Cianjur. Di sana kami naik angkot yang menuju ke arah gunung Putri ( sebutan
penduduk untuk gunung Gede). Kurang lebih empat puluh lima menit kami sampai di
pos pertama gunung Gede. Pos yang kami lalui adalah melalui pintu belakang dari
gunung Gede .
Kami
mendaftarkan kelompok di pos ini dengan biaya administrasi Rp.15000,-. Setelah
mendaftar kami makan siang, karena sudah jam 12.30 siang perut pun terasa
lapar. Saya duduk dekat dengan aliran air yang kecil, di sini juga saya mengisi
air untuk minum dan perbekalan di atas puncak nanti. Ada yang bilang kalau
sudah di atas tidak ada mata air,karena itulah saya mengisi air dengan penuh
untuk bekal diatas.
Naik gunung adalah pengalaman saya yang paling
pertama, baru berjalan sepuluh menit saja sudah merasa kecapean. Ransel yang
saya bawa sangat berat dan membuat bahu pegal juga lecet. Tapi, seiring
berjalannya waktu rasa sakit yang ada di bahu menjadi hilang. Saya pikir sampai
di puncak bisa cepat, ternyata sangat lama sekali. Ketika memanjat saya
berpapasan dengan orang-orang yang turun dengan cepat, mungkin karena mereka
sudah terbiasa.
Saya
selalu berhenti dan minum, beda dengan dua temen saya mereka seolah tidak
merasa lelah. Mereka berdua hanya minum dan merokok, padahal mestinya seorang
perokok tidak aka kuat ketika mendaki. Saya perhatikan ternyata rokoknya lain
dari pada biasanya,mereka meraciknya sendiri dan bukan memakai tembakau yang
mereka gunakan adalah ganja kering. Entah dari mana mereka mendapatkan ganja
itu, saya hanya melihat saja dan ketika di tawari saya menolaknya. Mereka
bilang ganja ini bisa menghilangkan rasa lelah dan tidak akan terasa cape
ketika mendaki. Ternyata mereka adalah pecandu narkoba, saya baru mengetahuinya
ketika sudah berada di gunung.
Setelah
enam jam jalan kaki dan banyak berhenti, akhirnya kami sampai di atas gunung
pada pukul 18.00 petang dan ini belum sampai di puncaknya. Kami mendirikan
tenda juga masak indomie, setelah itu berstirahat. Sebagian kami masih ada yang
belum tidur dan malah bernyanyi-nyanyi sampai tengah malam.
Sebelum
matahari terbit kami sudah bangun dan membongkar tenda dan melanjutkan
perjalanan mendaki puncak Gede. Belum sampai di puncak matahari sudah nampak
ternyata kami telat untuk melihat “sun rises”. Tidak menganpa kami tetap naik
dan akhirnya sampai di atas pada pukul tujuh pagi. Dengan udara yang segar
cuaca cerah semua kota bogor terlihat dari atas puncak. Dan saya melihat
bekas-bekas letusan dari gunung Gede dan sekarang sudah di tumbuhi oleh
pepohonan dan menjadi hutan.
Perjalanan
di lanjutkan dengan menuruni gunung dan melewati “tanjakan setan”. Orang-orng
menyebutnya seperti itu karena tanjakannya yang sangat terjal dan sulit di
lewati. Ketika naik paha terasa sakit dan ketika turun lutut yang terasa copot,
tapi ini menyenangkan dan saya menikmatinya sehingga tidak terasa lagi rasa
sakit atau apapun. Pemandangan kiri kanan masih alami dan tidak ada polusi,
tapi sayang para pendaki tidak menjaga kebersihan lingkungan. Banyak sampah
bekas-bekas kemping atau makanan yang berserakan dimana-mana. Dari pos saja
sudah di ingatkan bahwa tidak boleh membuang sampah sembarangan, tapi ternyata
faktanya lain.
Sampai
di kaki gunung ternyata ada sungai dan saya minum sepuasnya. Air yang saya bawa
sudah habis sebelum sampai kali. Hari makin gelap kami mulai mencari tempat
untuk mendirikan tenda. Tempat yang kami pilih adalah dekat dengan air terjun
“Cibeureum” di samping kali.
Sore
hari saya dan teman mandi di kali, sudah dua hari saya tidak mandi dan teman
yang lain tidak ada yang mandi. Selesai mandi saya memakai baju tiga lapis dan
jaket celana juga tiga lapis supaya tidak kedinginan saat malam nanti. Ternyata
seperti di puncak dingin masih menusuk sampai tulang. Sudah dua malam berlalu
sulit tidur kembali. Sampai pagi menjelang saya dan teman-teman sarapan indomie
dan kopi setelah itu melanjutkan perjalanan dengan tidak khawatir lagi
kehabisan air. Sepanjang jalan yang kami lalui banyak air dan jalan setapak
kami selalu menlintasi aliran air.
Di
kaki gunung ada mata air panas yang berasal dari panas gunung Gede, kemudian
ada kolam ikan yang hanya ada lima ekor ikan besar, seperti ikan mas. Tidak
boleh ada seorang pun yang memancing atau mengambil ikan itu, karena di
lindungi dan berada di kawasan hutan
hutan lindung. Saya melihat dan mengambil gambarnya seperti di atas
puncak kami berfoto-foto untuk mengabadikan kegiatan kami. Semakin dekat dengan
pos keluar ada yang bilang akan ada pemeriksaan oleh petugas. Saya sudah merasa
cemas takut kena denda, karena saya mengambil bunga edelweis dan di taruh di
saku saya juga membawa pisau. Ternyata, tidak ada pemeriksaan Polisi Hutan yang
kami temui saja hanya menyapa dan mereka naik kepuncak untuk patroli.
Dan
sampai di bawah kami mampir ke kebun strowberi dan meminta buah kepada pak
taninya, dia pun memberikan. Kami berjalan menuju puncak pas dengan mengendarai
angkot dan tawar-menawar harga untuk diantar kan ke tempat tujuan yaitu puncak
pas. Setelah tiga angkot yang lewat harga pun di sepakati dan kami naik angkot
ke arah puncak pas. Kami berhenti di depan rumah makan “Rindu Alam”. Tapi, kami
tidak makan di sana melainkan naik ke atas kebun teh yang ada di depannya.
Diatas
kebun teh kami mendirikan tenda dan makan siang kemudian istirahat. Sore hari
kami di datangi oleh penjaga kebun teh dan hendak mengusir. Dia bilang tidak
boleh ditempati,tapi kami mengajaknya berunding dan dia malah meminta uang
sebagai gantinya. Kami mengumpulkan uang dan memberikanya kepada si penjaga
kebun itu. Di samping kami juga ada yang mendirikan tenda dan tengah malam
mereka malah berisik nyanyi-nyanyi. Kami berada di atas puncak kebun teh tepat
pada malam tahun baru. Saya dan teman-teman makan sore dengan sisa-sisa bekal
yang ada,kemudian turun ketempat keramaian orang-orang dan ikut bergabung.
Walaupun pakaian yang saya kenakan kotor karen sudah empat hari tidak di cuci,
saya tetap merasa percaya diri dan tidak malu. Waktu saya turun sudah malam dan
pakaian yang saya kenakan juga tidak terlalu nampak kotornya.
Tepat
jam duabelas malam semuanya serentak meniup terompet dan menyalakan kembang
api, saya dan teman-teman hanya menyaksikan dan ikut bergembira pada saat itu.
Setelah pesta berakhir kami kembali ke tenda pada pukul dua malam dan saya
istirahat lebih dahulu, sedangkan teman-teman masih asik begadang dan
minum-minum.
Di
saat istirahat angin mulai bertiup kencang dan disertai dengan hujan, saya
terbangun karena kebasahan. Dan semuanya menjadi terjaga tidak ada yang tidur
satupun diantara kami. Sedangkan di tenda lain mereka masih saja berman gitar
dan bernyanyi walaupun badai sedang menerpa. Akhirnya tenda mereka terbawa
angin dan mereka pun mulai berlarian turun dari atas puncak. Kami masih
bertahan dan tetap berada di dalam tenda.
Badai
menerpa selama satu jam dan membuat kami semua basah kuyup dan tidak ada yang
kering. Saat pagi hari kami membereskan semuanya dan bersiap kembali
melanjutkan perjalanan. Dengan berjalan kaki kami menuruni bukit dan ketika
sampai di tepi jalan raya kami berusaha mencari tumpangan dan setelah berjalan
selama hampir satu jam ada juga yang mau memberikan tumpangan kepada kami. Kami
menaikinya dan melanjutkan perjalanan pulang perbekalan sudah habis sama sekali
dan diatas truk hanya ngobrol dan melihat-lihat pemandangan.
Ketika
sampai di perbatasan Cianjur kami turun dan berganti kendaraan, karena
kendaraan yang kami naiki berbeda jurusan dengan yang kami tuju. Kami kembali
menunggu kendaraan yang menuju kearah jakarta. Beberapa truk lewat begitu saja
dan tidak memberikan tumpangan kepada kami,sekian jam menunggu akhirnya dapat
truk yang menuju kearah jakarta.
Sampailah
kami di kota Jonggol, tempat awal mula kami berkumpul disana saya di traktir
oleh teman yang rumahnya disekitar daerah itu. Kami berpisah dengan semua dan
kembali ke tempat masing-masing dengan membawa pakaian kotor dan kelelahan
selama empat hari berpetualangan ke gunung Gede dan kawasan puncak Bogor. Walaupun dengan dana yang
sedikit saya bisa memanfaatkan uang itu untuk berlibur dan merasa puas,uang
yang saya bawa hanya sebesar Rp.20.000,- saja. Sampailah di rumah dengan
selamat dan langsung membersihkan diri dan istirahat.
SEKIAN
No comments:
Post a Comment
Silahkan Berikan Komentar Yang Baik